Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label Renungan dan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan dan Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 April 2015

Janji Tukang Jahit

Share
Saat hari yang dijanjikan tiba, aku bergegas mampir ke tukang jahit dengan niat untuk mengambil baju hasil jahitannya. Ah... sungguh kecewa hati ini karena bajunya belum jadi. Dengan berbagai alasan si tukang jahit berargumen, “Maaf Bu... sekarang lagi banyak pesanan, tuh lihat ada pesanan dari kantor, jadi baju ibu belum dipotong. “Jadi kapan selesainya?” aku balas nanya. “Yaaa...sekitar semingguan lagi deh,” jawab si tukang jahit dengan yakinnya. Akhirnya dengan sedikit kesal, aku pergi dan berharap seminggu lagi bajunya jadi.


Seminggu kemudian aku kembali menemui tukang jahit, dan jawabannya, “Bajunya sih sudah dijahit tapi tinggal kancingnya belum....” katanya dengan tanpa merasa bersalah.  “Huh... sama saja artinya belum jadi” batinku. Jadi kapan nih saya bisa ambil bajunya? kataku dengan penuh kekesalan. “Yaaa... dua hari lagi lah ibu ambil” jawabnya dengan santai. “Bener nih Pak? Jangan janji terus, saya kan jadi bolak-balik!” kataku dengan penuh penekanan. “Iya Bu, dua hari lagi pasti sudah jadi. Sebenarnya sekarang juga harusnya sudah jadi, tapi si bos lagi ada urusan pergi ke ...bla..bla... Maaf ya Bu”, katanya..  Dengan terpaksa aku bilang,”Ya” sambil kecewa berat.  Dua kali sudah aku dikecewakan oleh tukang jahit. Dalam hati aku berjanji tak akan pernah lagi menjahit baju di tukang jahit itu. Hmmm.. janji tinggal janji.
Dua hari berikutnya, kembali aku datang ke tukang jahit dengan harapan kali ini benar-benar bajunya sudah jadi.  Dan... kekecewaanku semakin memuncak saat si tukang jahit kembali meminta maaf dengan membeberkan berbagai alasan semasuk akal mungkin, “ Lobang kancingnya sudah dibikin sih, tapi kancingnya belum dipasang, Bu”. What??... Sungguh keterlaluan nih si Bapak, sudah bolak-balik sampai tiga kali, bajunya belum jadi juga. Semakin mantaplah diriku berikrar dalam hati, “sampai kapan pun aku gak akan pernah jahit baju lagi di tempat ini!” sampai sumpah segala loh....  
Meskipun kecewa berat, tapi aku bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini, bahwa kita tidak boleh berjanji  sekedar janji tanpa usaha untuk menepatinya. Seringkali tanpa sadar kita pun sering berjanji pada teman atau kerabat hanya karena untuk menyenangkannya, Insya Allah seringkali kita ucapkan dengan enteng  tanpa niat untuk melakukannya . Insya Allah dimaknai antara ya dan tidak, cari aman, daripada jawab tidak bisa kan gak enak... Padahal makna dari Insya Allah itu sendiri sangat lah luhur, kita berusaha dan Allah lah yang mengijinkan semuanya terjadi.
Janji adalah hutang, itulah yang harus selalu kita ingat karena memang pada saat kita berjanji pada seseorang, maka kita diwajibkan untuk berusaha menepatinya, kecuali Allah tidak mengijinkan. Karena itu lah Insya Allah adalah perkataan yang baik dan apabila diucapkan dengan tujuan yang benar akan mendatangkan kebaikan untuk kita, dan sebaliknya jika kita tidak menepati janji yang kita ucapkan, maka timbangan keburukan yang akan bertambah.
Banyak orang yang dengan mudahnya berjanji. Mulai dari politikus, dengan janji-janji politiknya... janji suami pada istri dengan janji-janji manisnya... atasan yang berjanji akan memperhatikan bawahannya... pekerja yang berjanji akan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu... orang tua yang berjanji akan ngajak liburan.. atau orang yang berhutang namun tidak membayar sesuai yang dijanjikannya, bahkan... seringkali kita lupa dengan janji yang telah kita ucapkan sendiri. Mmmhh... JANJI memang mudah diucapkan namun terkadang lupa untuk menepatinya.
Seperti halnya si tukang jahit tadi.. telah kehilangan seorang pelanggan dengan mudahnya akibat dari sebuah janji yang tidak ditepati. 

Minggu, 05 Agustus 2012

Puasa Ramadhan sebagai Sarana Menjadi Insan Yang Terbaik

Share

Oleh:  Hendarmoko, S.Si*

Disampaikan pada Kultum Ramadhan di Masjid At-Tarbiyah LPMP DKI Jakarta
Tanggal 25 Juli 2012

Bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk menjadi manusia yang bertaqwa.  Derajat taqwa ini merupakan penyempurna bagi manusia yang memang telah diciptakan dengan sebaik-baiknya oleh Allah SWT:
  • Laqod  kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya
  • Tsumma rodadnaahu asfala saafiliin.  Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya
  • Illalladziina aamanu wa amilushshoolihaati falahum ajrun ghoiru mamnuun. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.  Maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”   (Q.S At-Tin (95): 4-6)
 Di ayat  lain Allah SWT berfirman:
“Maa ashoobaka min hasanatin faminaLLah, wamaa ashoobaka min sayyi’atin famin nafsika,...”
•      Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri  (Q.S An Nisa (4): 79)

Hal ini tentu menarik untuk dikaji, karena dengan gamblang Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang TERBAIK, namun karena manusia Tidak Menyadari keistimewaan tersebut (tanpa Ilmu), tidak  meyakini dirinya terbaik (tanpa Iman), dan Tidak Mau Belajar/Berusaha/Bekerja (tanpa Amal), maka jatuhlah ke tempat yang serendah-rendahnya (TERBURUK).  Jadi, kalau manusia mendapat keburukan, hal ini karena ulah manusia itu sendiri.
Alat yang sangat luar biasa yang Allah karuniakan untuk bisa menjadikan manusia tetap menjadi mahluk-Nya yang terbaik adalah akal dan hati, yang bentuk hardware-nya berupa otak.  Mengapa hati bentuk nyatanya adalah di otak? Karena ilmuwan telah menemukan bagian otak yang merupakan God Spot berupa daerah di otak yang memang menjadikan semua manusia mengakui akan keberadaan Allah SWT. 
Jika hardware-nya berupa otak, maka software-nya adalah program-program yang telah dimasukkan ke dalam otak sejak terbentuknya manusia sejak masih berupa janin sampai dewasa atau sampai sekarang.  Program-program tersebut diisi oleh orang tuanya, keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, dan media komunikasi yang ada di sekitarnya.
Ibarat komputer, jika terjadi masalah, dapat langsung terlihat di layar komputer, maka ada dua kemungkinan:  hardware-nya yang rusak atau ada program “virus” yang membuat komputer menjadi error.  Begitu pula dalam kehidupan yang kita alami.  Jika kehidupan yang dialaminya ada yang tidak beres, maka kemungkinannya ada dua:  memang tubuh fisiknya, terutama otaknya ada gangguan;  atau karena ada program-program di otak yang tidak beres atau bersifat negatif.
Allah SWT Maha Tahu dengan kelemahan mahluknya yang bernama manusia sehingga mewajibkan berpuasa di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh.  Dengan berpuasa ini maka kita dituntut agar menjaga dari hal-hal yang mambatalkan puasa, bahkan dari hal-hal yang mengurangi pahala puasa.
Coba kita lihat sekilas apa manfaat dari berpuasa di bulan Ramadhan ini:

A.   Dampak berpuasa bagi tubuh fisik (hardware)
1.    Sebagai penyembuh berbagai ragam penyakit dan menjaga kebugaran tubuh. Telah dibuktikan sejak jaman  Yunani, Mesir kuno, sampai ilmuwan modern.
2.    Melindungi sel-sel tubuh dari racun
3.    Membantu pembaruan sel-sel tubuh
4.    Mengurangi kegemukan (obesitas)
5.    Tidak menyebabkan pembekuan darah dan gangguan peredaran darah
6.    Meringankan dan mencegah penambahan asam lambung yang berlebihan
7.    Menjaga keseimbangan tekanan darah
8.    Menghindari tubuh dari radang sendi, rematik, dan gangguan sendi
9.    Mencegah penyakit gula
10. Menyembuhkan berbagai penyakit kulit
11. Menenangkan dan meringankan rasa sakit
12. Mengendalikan hasrat seksual
13. Menjaga keseimbangan kadar air dalam tubuh
14. Menjaga keseimbangan pola konsumsi
15. Memperlancar aliran darah ke otak sehingga fungsi otak semakin lancar
 
B.   Dampak berpuasa bagi program-program pikiran (software)
1.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Perasaan yang Positif, Baik dan Benar
2.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Pandangan dan Pikiran yang Baik dan Benar
3.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Visualisasi yang Baik dan Benar
4.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Ucapan yang Baik dan Benar
5.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu melakukan Tindakan yang Baik dan Benar
6.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu melakukan Kebiasaan yang Baik dan Benar
7.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu Berkumpul dengan Orang Benar: di masjid, dan tempat-tempat pengkajian Al Qur’an dan hadist
8.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Makanan Mental yang Benar:  baca Al Qur’an, hadist, dan buku-buku yang baik, serta mendengar dan menonton hal-hal yang baik
9.    Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Pelatihan dan Pengembangan Diri yang Benar: melalui mengaji, mendengar kultum, sholat tarawih, melakukan ibadah-ibadah sunnah lainnya
10. Ada proses pembiasaan agar dapat selalu memiliki Gaya Hidup yang Benar:  melatih agar pola Makan, Minum, Olahraga, Istirahat, dan Beribadah dilakukan dengan baik dan benar
Dengan melakukan semua pembiasaan tersebut maka program-program negatif yang selama ini sudah terekam di otak, dapat tergantikan dengan program-program baru yang positif tersebut.  Pelatihan dan pembiasaan selama sebulan tersebut diharapkan dapat membuat program positif tersebut menjadi permanen sehingga dapat bertahan sampai sebelas bulan kemudian. 

C.   Dampak berpuasa secara spiritual dan nasib di akhirat nanti 
1.    Mendapat pahala yang berlimpah
2.    Diampuni dosa-dosanya yang telah lalu
3.    Sarana untuk mensyukuri nikmat
4.    Melahirkan rasa cinta, kasih sayang dan kelembutan kepada orang miskin
5.    Puasa memiliki kekuatan untuk mengusir syetan, karena media untuk menyesatkan dan mencelakakan manusia adalah syahwatnya. Syahwat menjadi kuat karena makanan dan minuman
6.    Jika mendapat malam Lailatu Qadr, maka setara dengan mendapat pahala beribadah selama 83 tahun
7. Dapat menumbuhkan kedekatan kepada Allah SWT sehingga dirinya merasa senantiasa diawasi Allah SWT, sehingga jiwanya akan disucikan karena selalu melakukan kebajikan dan menjauhi kemaksiatan.  Hal ini tentunya akan berdampak kepada kebajikan sosial, karena dirinya selalu melakukan kebaikan baik untuk diri, orang lain maupun alam sekitar.
8.    Sarana untuk mencapai derajat taqwa
9.    Masuk surga melalui pintu khusus orang yang berpuasa, yaitu Baabun Royyan

Melihat keuntungan-keuntungan tersebut, maka tidak heran jika Rasulullah SAW menyatakan dalam hadistnya yaitu “sungguh, jika manusia mengetahui hikmah bulan Ramadhan maka akan meminta agar setahunnya bulan Ramadhan semua”. 
Semoga materi kultum yang singkat ini dapat menyadarkan kita akan hikmah dan manfaat puasa Ramadhan yang luar biasa ini sehingga semoga kita dapat mencapai derajat Taqwa. Amin Ya Rabbal Alamin...
  
Sumber:  1. Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah karangan Dr. Jamal Elzaky, Penerbit Zaman, 2011.   2. Manage Your Mind for Success karangan Adi W. Gunawan, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2012 

* Penulis adalah staf di LPMP DKI Jakarta, Kemdikbud

Rabu, 25 Juli 2012

Perjalanan Penuh Hikmah

Share

Part One (Antara Jakarta-Jeddah)

Dalam perjalanan hidup kami berdua, ada satu perjalanan yang paling bermakna dan sarat hikmah. Ya, perjalanan ibadah umroh tanggal 11-22 Maret 2012 yang lalu ke tanah suci mengantarkan kami kembali menapaki jejak langkah perjalahan Rasulullah SAW dalam menegakkan Islam di muka bumi.

Diawali tangal 11 WIB Pukul 07.00 aku dan suami bergegas  menuju Bandara Soekarno Hatta untuk  berkumpul bersama rombongan dari Makara Wisata UI yang berjumlah kurang lebih 40 orang. Dengan taxi dekat rumah yang kami pesan sebelumnya, kami melaju di jalan tol yang kala itu lengang karena memang hari Minggu. Hari libur sehingga jalanan di Jakarta cukup lancar. Akhirnya Pukul 08.00 kami tiba di Bandara, dan di sana sudah cukup banyak peserta rombongan yang berkumpul. Alangkah berseri-serinya wajah kami semua karena sudah membayangkan perjalanan yang akan kami lakukan adalah perjalanan yang tidak biasa.

Setelah rombongan berkumpul dan diberi pengarahan awal oleh ketua rombongan dari Makara, kami pun check in pukul 09.00 sesuai jadwal semula. Direncanakan pukul 11.00 sudah take off, namun ternyata ada keterlambatan dan akhirnya pesawat terlambat hampir 2 jam. Huffh... ternyata baru awal keberangkatan pun, kami sudah harus diuji untuk selalu bersabar menunggu pesawat datang. Akhirnya kurang lebih pukul 13.00 pesawat Yemenia Air yang akan kami tumpangi pun datang. Dengan perasaan  senang  kami pun bergegas masuk ke pesawat. Ya Alloh... rasanya seperti mimpi yang benar-benar nyata. Akhirnya satu dari impian kami berdua untuk melakukan perjalanan ini benar-benar akan terwujud sebentar lagi. Dengan selalu berdoa untuk keselamatan perjalanan kami, pesawat pun akhirnya terbang mengantarkan mimpi kami ke tanah suci.

Setelah perjalanan kurang lebih 1 jam 45 menit, kami transit di Kuala Lumpur. Dengan tetap di dalam pesawat, kami menunggu satu sampai dua jam utk melanjutkan perjalanan menuju tanah yang dinanti.Ternyata di Kuala Lumpur, banyak penumpang dari Malaysia yang juga akan berumroh. Denger-denger katanya akhir-akhir ini banyak orang Malaysia yang lebih memilih melakukan umroh terlebih dulu karena untuk haji perlu waktu yang cukup lama menunggu, bahkan hampir 10 tahun. Subhanalloh... betapa dahsyatnya kekuatan Mekah Almukarromah dengan Ka’bah nya yang mampu menarik umat muslim untuk  mengunjunginya.

Pesawat kami rencananya transit di Dubai sebelum akhirnya mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Berangkat dari KL menuju Dubai memerlukan waktu kurang lebih 7-8 jam penerbangan non stop. Waktu yang cukup panjang untuk sebuah perjalanan paling dinanti. Untuk mengusir kejenuhan dalam perjalanan, banyak yang kami lakukan, mulai dari sekedar melihat-lihat pemandangan luar (meskipun cuma sekumpulan awan di langit), baca buku, berbagi cerita, foto-foto di pesawat, merekam perjalanan, sampai bolak balik ke toilet sebagai exercise badan biar gak terlalu pegel-pegel. Yang pasti tak lupa untuk selalu berdoa memohon keselamatan kepada Penguasa Alam agar diberi keselamatan.

Saat perjalanan terbang dari Indonesia menuju Dubai, ada satu fakta tentang Indonesia yang terbukti benar. Ternyata orang Indonesia memang ramah-ramah. Hal itu terbukti dari pelayanan para pramugari Yemenia Air. Pramugari dari Indonesia sangat ramah jika dibandingkan dengan pramugari dari Yaman sendiri. Mereka selalu melayani dengan senyum penuh kehangatan. Ada satu pramugari yang paling berkesan, namanya mbak Amel. Dia ramah sekali dan selalu berbicara dengan sopan dan penuh keakraban. Saat suamiku minta air putih satu botol, langsung diberinya dengan senang hati. Terimakasih mbak Amel.. dengan senyum dan keramahannya, perjalanan kami jadi menyenangkan.

Akhirnya sekitar pukul 01 tengah malam waktu Dubai, kami pun mendarat di Bandara Dubai untuk transit dan ganti pesawat. Saat turun dari pesawat, satu hal yang terasa adalah dinginnya udara malam di sana. Brrr... entah berapa derajat udara saat itu. Saat menaiki bis khusus penumpang, badan kami menggigil karena terpapar udara malam dan dinginnya angin malam di Dubai. Alhamdulillah, meski sesaat kami telah menghirup udara dan menginjakkan kaki di Dubai, Uni Emirat Arab. Kalau dilihat, sepertinya bandaranya tidak terlalu besar, bahkan lintasannya pun cukup pendek. Fasilitasnya pun biasa saja, sepertinya kalah dengan Bandara Soetta di Indonesia. Hal ini membuatku semakin cinta Indonesia.

Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, kami pun naik ke pesawat jenis Boeing yang lebih kecil menuju ke Sanaa, Yaman untuk transit kembali.  Di Bandara kami menunggu sambil beristirahat sejenak dengan melihat-lihat sekeliling. Kondisinya ternyata masih di bawah standar untuk ukuran bandara Internasional. Yaman memang negara termiskin di antara negara-negara kaya di Timur Tengah. Menurut informasi, Yaman tidak memiliki kekayaan alam seperti negara-negara tetangganya, sehingga kondisinya masih berada di bawah kemiskinan. Bersyukur sekali menjadi orang Indonesia dengan kekayaan alamnya yang begitu berlimpah. Sayang... kekayaan itu belum dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, bahkan sebagian hilang begitu saja diambil negara lain tanpa kita menyadarinya. Meskipun begitu, aku tetap cinta Indonesia. Kadang informasi yang kita peroleh dari TV atau media cetak terasa kurang adil, sering disebutkan Bandara Internasional Soekarno Hatta tidak layak lah, kurang terawat lah, dan berita-berita negatif lainnya. Ternyata jika dibandingkan dengan Bandara di Yaman atau Dubai sekalipun, Bandara Soetta masih juara.

Menunggu, dan selalu menunggu... Itulah resikonya naik pesawat ekonomi. Kenyamanan memang ada harganya. Tapi, semua itu kami jalani dengan penuh sukacita karena perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa tapi perjalanan yang sangat istimewa menuju ke tanah suci, tanah yang sangat didamba oleh setiap muslim untuk mengunjunginya. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 04 dini waktu Sanaa, kami pun terbang menuju Jeddah, dan diperkirakan perjalanan satu jam kami sampai di Bandara King Abdul Aziz. Saat di pesawat, kami mencoba tidur sejenak untuk istirahat menjaga kondisi fisik yang memang cukup lelah. Alhamdulillah akhirnya kami mendengar pemberitahuan bahwa pesawat sesaat lagi akan mendarat di Bandara King Abdul Aziz. Tak sabar rasanya aku ingin segera turun dari pesawat dan menghirup udara bebas sepuas-puasnya sambil terus bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk perjalanan ini. Sekitar pukul 05.00 waktu Jeddah, kami pun mendarat dengan selamat dan mulus. Alhamdulillah, seperti mimpi rasanya kami berdua telah sampai di Jeddah, dan tinggal sesaat lagi kami tiba di tanah impian.  

Dipimpin oleh ketua rombongan kami, Ustadz Haddi dari Makara UI, kami pun dikumpulkan untuk diberi pengarahan mengenai perjalanan ini. Kami antri berbaris di belakang mahram masing-masing untuk diperiksa semua kelengkapan dokumen perjalanan yang kami bawa. Aku pun antri di belakang suamiku, dan bagi jamaah perempuan yang tidak disertai mahramnya, Ustadz Haddi mengaturnya dengan membagi kepada jamaah laki-laki lainnya. Alhamdulillah pemeriksaan berjalan lancar, dan kami pun berkumpul di ruang tunggu bandara untuk koordinasi. Tak lupa kami melaksanakan shalat subuh seraya berucap syukur tiada henti atas nikmat dan keselamatan yang telah Allah berikan. Alhamdulillah wa syukurrillah....

Selama dalam perjalanan, aku tak pernah jauh dari suamiku tercinta. Dimana ada aku, di situlah suamiku berada. Alhamdulillah.. aku mendapatkan seorang suami sholeh yang selalu menjaga dan melindungi diriku, ehemmm... Perjalanan ini memberikan romantisme tersendiri untuk aku dan suamiku, seperti perjalanan bulan madu ke sekian kali setelah hampir sembilan tahun kami menikah. Perjalanan ini pun membawa misi dan harapan kami berdua untuk segera memiliki momongan yang belum hadir dalam kehidupan kami. Insya Allah, dengan penuh keyakinan dan harapan, kami selalu memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk mengabulkan permohonan kami ini. Aamiin Ya Rabbal Aa’lamiin...

Saat berada di Bandara King Abdul Azia, kami disambut oleh Ustadz Arif yang merupakan pembimbing kami dari Makara UI yang telah menunggu kedatangan kami dari Jakarta. Beliau telah tinggal di Madinah untuk menuntut ilmu, dan diantara waktu senggangnya beliau selalu membantu para jamaah dari Indonesia untuk membimbing perjalanan umroh ataupun perjalanan lainnya di Mekah dan Madinah. Dengan ramah dan penuh kehangatan, sambutan Ustadz membuat kami semakin bersemangat untuk segera melanjutkan perjalanan ke Madinah dan Mekah. Namun, saat kami akan keluar dari Bandara, rombongan diminta untuk menyerahkan paspor kami kepada petugas bandara, entah apa lagi yang akan diperiksa. Ternyata oh ternyata... paspor ditahan oleh petugas dengan beribu macam alasan, sehingga perjalanan kami pun sedikit tertunda. Ustadz Haddi dan Ustadz Arif dengan sigap mengurus masalah tersebut. Ujung-ujungnya setelah menerima amplop, petugas menyerahkan kembali paspor kami. Oow... gak di Indonesia, gak di Arab, urusan pungli dan minta amplop sebagai pelicin kerap terjadi. Ironis sekali, di negeri Arab yang notabene negeri muslim, kejadian seperti itu biasa terjadi, dan yang lebih ironis lagi ternyata kondisi tersebut bermula dari kebiasaan orang Indonesia yang selalu memberi amplop kepada petugas saat mengurus suatu keperluan. Jika informasi itu benar, sungguh aku malu jadi orang Indonesia yang menyuburkan praktek-praktek pungli seperti itu. Satu misi lagi aku bawa dalam do’aku nanti di tempat mustajab, agar negeriku Indonesia menjadi negeri yang aman, makmur, dan damai, dan semoga para pemimpinnya dapat memegang kekuasaan dengan amanah, dan selalu membawa kami pada kebaikan, tidak hanya kebaikan di dunia namun juga kebaikan di akhirat, aamiin...

Dengan penuh kesabaran, kami menunggu negosiasi antara ketua rombongan dengan petugas bandara. Andaikan aku mengerti bahasa Arab, mungkin seru yang tawar menawar harganya, he... (seperti di pasar ya?..). Alhamdulillah.. akhirnya setelah kami menunggu kurang lebih satu jam, paspor kami dikembalikan oleh petugas, tentu tidak dengan gratis. Entah berapa real yang berhasil mereka peroleh dari praktek pungli ini. Mmmh... satu lagi pengalaman berharga aku dapatkan dari perjalanan ini.

Waktu menunjukkan pukul 8 pagi waktu Jeddah, membawa bis yang kami tumpangi menuju tanah Madinah, tanah dimana Nabi Muhammad menggoreskan sejarah perjalanan perkembangan agama Islam. Tak sabar rasanya aku ingin segera menapakkan kaki dan menghirup udara  Madinnah. Perlu waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di sana. Alhamdulillah... sesaat lagi aku sampai di tanah impianku. Madinnah.... I’m comming..   (bersambung....)

Rabu, 22 Februari 2012

3 Kata yang Mampu Merubah Hidup Anda

Share Tahukah Anda? ternyata ada hal kecil yang bisa dilakukan untuk merubah hidup menjadi lebih baik. Ya, hanya tiga buah kata sederhana yang jika selalu diucapkan akan menjadikan diri kita menjadi pribadi yang luar biasa.

Pertama, TERIMAKASIH...
Katakan terimakasih saat kita menerima hal yang menyenangkan dari orang lain. Kadang kita lupa mengucapkannya karena merasa apa yang orang lain lakukan untuk kita sudah biasa. Suami pada istri ataupun sebaliknya, atasan pada bawahan atau siapapun dia. Seringkali atasan enggan mengucapkannya pada bawahan karena merasa tidak penting, padahal.. dampak dari kata itu sungguh luar biasa, bawahan merasa dihargai oleh atasannya. Atasan juga akan lebih dihargai oleh bawahan. Begitu juga dalam kehidupan suami istri, coba kita introspeksi, sudahkah kita mengucapkan terimakasih pada suami atau istri kita saat dia telah membantu?

Kedua, TOLONG...
Katakan tolong saat kita mengharapkan bantuan dari orang lain. Dengan kata itu, orang yang kita harapkan bantuannya akan merasa senang meski kita telah merepotkannya. Bukankah itu jadi keuntungan plus buat kita? Satu sisi kita telah dibantunya, sisi lainnya kita telah menyenangkannya. Berpahala bukan?

Ketiga, MAAF...
Katakan maaf saat kita berbuat kesalahan yang merugikan orang lain. Kadang terasa berat untuk mengucapkannya karena gengsi atau apapun namanya itu. Kita manusia pasti tidak luput dari kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak. Jadi alangkah sombongnya jika kita tidak pernah meminta maaf pada orang lain, terutama orang-orang terdekat kita. Dengan maaf maka Insya Alloh, pintu surga akan terbuka lebar.

Jadi....
Sudahkan Anda menggunakan 3 kata itu? Jangan tunda untuk jadi orang baik, karena orang baik itu pasti akan mendapat kebaikan....

Jumat, 17 Februari 2012

10 Cara untuk Hidup Bahagia

Share

 Seorang psikolog Amerika (Dr. Dick) mengatakan'"Kehidupan yang bahagia itu merupakan seni keindahan yang memerlukan sepuluh unsur berikut:

1. Memilih pekerjaan yang engkau senangi. Namun, bila pekerjaan itu terasa sulit untuk dikerjakan, cobalah luntuk menekuni hobimu pada saat-saat senggangmu
2. Menjaga kesehatan merupakan ruh dari sebuah kebahagiaan. Dan itu, bisa dilakukan dengan cara menjaga keseimbangan dalam soal makan dan olah raga, serta menjauhi kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan
3. Engkau harus memiliki tujuan dalam hidup. Karena, tujuan itulah yang akan membuatmu bersemangat dan dinamis
4. Menerima kehidupan apa adanya dan menikmati manis getirnya kehidupan dengan senang hati
5. Hadapilah kenyataan yang sedang terjadi, jangan menyesali yang telah lalu dan jangan merisaukan hari esok yang belum datang
6. Hendaklah berpikir sebelum berbuat dan mengambil keputusan. Jangan sekali-kali menyalahkan orang lain ketika keputusanmu salah
7. Pandanglah orang-orang yang lebih rendah darimu dalam hal keberuntungan
8. Biasakan untuk selalu tersenyum, berwajah cerah dan berteman dengan mereka yang optimis
9. Hendaklah berbuat untuk membahagiakan orang lain agar ia juga mencurahkan keharuman kebahagiaannya kepadamu
10. Manfaatkan berbagai peluang dan kesempatan berharga dengan baik dan jadikanlah waktu-waktu luang itu sebagai terminal untuk menuju kebahagiaan.

Sumber: Dr. 'Aidh Al Qarni'. Menjadi Wanita Paling Bahagia

Kamis, 16 Februari 2012

Secerah Mentari Pagi

Share
Sang mentari selalu setia menemani sang pagi meski kadang malu-malu tertutup sang awan. Tak sedikitpun keluar keluhan dari sang mentari ketika dia harus bertugas di pagi hari. Dia selalu tepat waktu melaksanakan tugasnya tanpa pernah berkata "akh...aku capek..." Pagi hari seolah adalah teman karib sang mentari. Tanpa dia hari terasa gelap dan kelam. Sungguh indah kehidupan ini dengan sang mentari yang selalu menerangi kehidupan dan menjadi kehidupan lain menjadi lebih hidup. Sanggupkah kita seperti Sang Mentari? Sungguh nikmat jika hidup kita selalu berbuat dan bermanfaat untuk orang lain...